Selasa, 22 April 2008

IWAN FALS
ADA DIMANA


Saat itu saya berkesempatan melakukan perjalanan melalui darat dari Surabaya menuju Jakarta.

Perjalanan yang cukup melelahkan selama hampir empat belas jam karena banyak tempat yang harus disinggahi, untung mobil yang saya tumpangi cukup nyaman. Waktu itu saya bertiga dengan seorang saudara dan seorang teman. Kami berangkat pukul tujuh malam, dan posisi saya saat itu masih sebagai penumpang, maka saya manfaatkan untuk tidur.

Baru setelah kita sholat subuh di kota Solo, kemudi saya ambil alih.
Memang cukup membosankan melakukan perjalanan darat dengan rute yang panjang seperti ini, namun pemandangan daerah yang saya lewati cukup menghibur mata yang seharian cuma melihat aspal jalan.

Untuk mengatasi kejenuhan sambil mengendarai mobil saya sempatkan mengamati kendaraan lain yang berpapasan, meskipun baru satu-dua karena masih pagi, namun cukup jelas saya dapat membaca stiker berbentuk tulisan yang terpajang dengan bangganya di kaca depan kendaraan-kendaraan tersebut. Rata-rata mobil yang lewat pagi ini adalah angkutan pedesaan dengan mobil sejenis minibus. Satu persatu saya baca tulisan di kaca depannya sambil menikmati segarnya angin pagi dari jendela yang terbuka. Ada tulisan ‘Gladiator’, ‘Teman Tapi Mesra’, ‘Angin Surga’ dan sebagainya yang membuat saya tertawa sendiri membacanya. Dan tak berapa lama saya mulai disalip oleh truk-truk berukuran sedang pengangkut barang, karena mungkin saya mengemudi dengan santai.

Tak kalah dengan mobil angkutan pedesaan yang saya jumpai tadi, truk-truk tersebut juga menorehkan tulisan dan gambar yang menarik di bak belakangnya, bedanya tulisan ini dilukis dengan cat dan beberapa menggunakan teknik airbrush. Tulisan dan gambarnya lebih seru lagi, ada yang bergambar wajah seorang berjanggut panjang dan disampingnya tertulis ‘Osama Bin Laden’, ada yang bergambar tokoh fiksi ‘Rambo’ dengan tulisan ‘Kutunggu Jandamu’, ada yang dengan bangganya menuliskan kata dengan bahasa Inggris yang setelah saya amati ternyata ejaannya salah seperti ‘Welkome To The Jungel’, ‘Robokop’ dan sebagainya yang dilukis dengan rapi dan menggunakan warna yang menarik. Namun ada yang lebih gila lagi, mereka menampilkan gambar wanita dengan pose menantang dan berpakaian minim, walaupun bentuk lukisannya kadang tidak proporsional tapi tetap mengundang kita untuk memandangnya. Lumayan saya dapat hiburan gratis di pagi ini.

Tetapi setelah beberapa kendaraan saya amati, kebanyakan dibagian depan tepatnya diatas lampu utama terdapat stiker yang menampilkan gambar siluet dari wajah seseorang. Tidak terlalu jelas tetapi saya sedikit dapat mengenal wajahnya. Sambil mengemudi saya mencoba mengingat-ingat gambar wajah siapa yang dipasang mereka. Tak beberapa lama saya terjebak macet karena ada pasar yang cukup ramai. Saat berjalan dengan perlahan saya berpapasan lagi dengan sebuah truk yang memasang stiker siluet wajah yang kali ini dapat saya amati dengan jelas karena posisi truk itu sedang terjebak kemacetan.

Wah, ternyata itu gambar Iwan Fals, ya saya yakin sekali karena tidak asing dengan wajahnya. Dan ternyata disepanjang kemacetan itu kalau saya hitung ada sekitar sepuluh truk dan delapan angkot yang menempelkan gambar siluet wajah Iwan Fals di kendaraannya.

Gambar itu ditempelkan begitu saja tanpa ada embel-embel tulisan, ada yang tegak lurus dan ada yang dipasang miring, tetapi tetap dapat terlihat jelas dari depan.

Mengapa Iwan Fals? Mengapa bukan pemusik yang lainnya? Semua itu coba saya analisa, dan ternyata memang Iwan Fals yang sangat dekat dengan kaum pinggiran sekelas sopir angkot atau sopir truk. Dekat dalam artian Iwan Fals dapat mewakili perasaan dan jiwa pemberontakan mereka. Sehingga mereka menempatkan sosok Iwan Fals pada tempat yang sangat terhormat. Dan suatu kebanggaan dapat menempelkan gambar orang yang dianggap pembela kaum lemah pada media yang menghidupi mereka.
Kalau kita mengamati lirik lagu Iwan Fals, memang hampir semuanya menyerukan protes kepada ketidakadilan di masyarakat, seperti lagunya yang dibuat tahun 1981 dan sampai sekarang masih terkenal yaitu ‘Guru Oemar Bakri’, juga lagunya yang menghebohkan pada tahun 1989 seperti ‘Bento’ dan ‘Bongkar’.

Lirik dalam lagu tersebut sangat pedas dan berani. Sangat jarang pada tahun 80-an ada pemusik yang berani menantang penguasa melalui karyanya, dan Iwan Fals adalah mungkin satu-satunya seniman yang paling berani.

Lagu-lagu Iwan Fals rata-rata sangat familiar ditelinga kaum pinggiran. Andaikata masing-masing dari mereka mempunyai mp3 player, saya yakin lagu-lagu Iwan Fals pasti akan masuk dalam daftar koleksinya disamping lagu-lagu dangdut dan lagu dari penyanyi-penyanyi muda yang sok tenar seperti Samsons, Radja, Nidji, Letto, Peterpan dan sebagainya.

Ketika berhenti dan istirahat selepas sholat ashar disebuah warung kopi di Cikampek menjelang pintu tol, saya berkesempatan untuk ngobrol dengan seorang sopir truk trailer yang kebetulan mengenakan t-shirt bergambar Iwan Fals, saya dapat menangkap kebanggaan dari matanya untuk bercerita tentang idolanya tersebut. Saat saya tanyakan pendapatnya tentang band atau penyanyi baru yang banyak sekali belakangan ini, dia tidak terlalu merespon, namun lelaki yang kira-kira berusia 35 tahun itu menyatakan bahwa penyanyi sekarang hanya memikirkan membuat lagu yang komersil, jadi bintang iklan dan show untuk memperbanyak uang, sedangkan Iwan Fals tidak terlalu perduli kearah situ. Kesederhanaan Iwan Fals itulah yang membuatnya semakin dicintai oleh rakyatnya. Dari percakapan itu dapat saya tangkap adanya kesenjangan ekonomi yang menjadikan orang memilih siapa yang pantas menjadi panutan mereka.

Memang kalau kita perhatikan, Iwan Fals belakangan ini cukup jarang melakukan show. Jangankan menjadi bintang iklan, kalau dia konser saja semua logo atau merk alat musik yang dia pakai pun ditutupi dan dia tidak pernah mau panggung konsernya menampilkan latar belakang produk yang menjadi sponsornya.

Lagu-lagunya pun musiknya terkesan asal jadi saja seperti pada album ‘Manusia Setengah Dewa’. Dan intinya dia tidak mengutamakan keuntungan, dia berkarya dengan bebas semau dirinya. Dan itulah yang membuat dia menjadi ikon kaum pinggiran yang kebanyakan memiliki sifat haus akan kebebasan.

Latar belakang Iwan Fals yang berawal dari pengamen jalanan semakin menguatkan posisinya sebagai orang yang dikagumi. Dan sekarangpun bukan kaum pinggiran saja yang menobatkan dia menjadi raja, namun kaum menengah dan kelompok atas pun banyak yang mulai mengidolakan Iwan Fals.

Menyaksikan kuatnya kharisma Iwan Fals, maka saya sadari kalau kaum pinggiran dan terkucilkan seperti sopir-sopir yang bekerja keras siang dan malam untuk hasil yang jelas tak seberapa itu sangat membutuhkan figur yang benar-benar dapat mewakili penderitaan mereka walaupun sebatas lewat lagu, tetapi itu sudah cukup memberi kepuasan bagi mereka yang mungkin takut atau tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bersuara lantang kepada penguasa. Dan Iwan Fals menjadi salah satu pilihan terdepan buat mereka.

Matahari semakin rendah dan memerah, teman saya yang memegang kemudi siap melanjutkan perjalanan menuju Jakarta melalui tol Cikampek. Kaset album Iwan Fals berjudul ‘Suara Hati’ milik sopir trailer yang saya paksa beli melalui barter dengan dua pak rokok kretek dan segelas kopi saya putar, mengiringi sisa perjalanan kami menuju Jakarta. “Suara hati...kenapa pergi....suara hati....jangan pergi lagi....”

Tidak ada komentar: